Sunday, December 26, 2010

Pasangan hidup ibarat sebuah sekolah

Bersyukur kita masih mendapatkan sebuah sekolah. Apapun dan bagaimanapun sekolah kita, mencintai adalah keharusannya. Meski tiap diri menginginkan sebuah sekolah "ideal" di mata manusia, yang elit, prestige, unggulan, dsb. itu, tapi tidak semua dari kita bisa mendapatkannya. Seperti juga orangtua kita, kita tidak bisa memilihnya (karena saya percaya jodoh adl. takdir, walaupun ada "usaha" untuk mendapatkan sekolah terbaik tsb).

Sebuah mutiara, dimanapun dia berada tetaplah mutiara. Seorang murid cemerlang, meski bersekolah di sekolah kampung minim fasilitas sarana, dia akan tetap memberikan sesuatu bagi sekolah, lingkungan dan peer groupnya. Tak perlu pindah sekolah, dia masih bisa berkompetisi dan menjadi duta bagi sekolahnya (ingat pula cerita Laskar Pelangi dan Eliana). Dari sekolah kampung yang miskin, murid cerdas justru akan banyak berpikir. Semakin kompleks masalah di "sekolah miskin" tsb. semakin dalam pikiran dan keinginan murid cerdas untuk lebih maju.

Sebuah teori kontraproduktif di sistem pendidikan kita. Begitulah juga dalam berumah tangga.

Saya tidak akan menyinggung tentang sekolah yang "sudah jadi". Sekolah yang sudah pasti akan melahirkan murid-murid hebat karena kehebatan prasarananya. Sudah pasti itu... karena sekolah unggulan memang sudah mendapat input unggulan pula. (Bagi yang berminat mendapat pasangan unggulan, maka jadilah unggulan, dan bila jodoh, maka hidup Anda relatif lebih mudah *smileysenyum*)

Apapun kondisi kita, nasib tidak ditentukan oleh sekolah, melainkan diri kita sendiri. Seperti misalnya murid cemerlang yang "terpaksa" mendapat "sekolah biasa" atau sekolah rata-rata oleh karena jodoh kondisi (misal orangtua yang dinas di kota kecil, di pulau terpencil) jangan menyerah. Ide, pikiran dan karya luar biasa di dunia ini tidak lahir dari tempat mewah tetapi dari keterbatasan.

Di sekolah apapun kita berada, mengembangkan diri dan menciptakan karya adalah kunci suksesnya.

Die Antwort bist du selbst!

-beginvonendemtd307nachdemHbVortrag-

No comments:

Post a Comment