Wednesday, April 7, 2010

Membangun Kesalehan Intelektual

Telah banyak orang berbicara tentang kesalehan ritual dan bahkan akhir-akhir ini muncul istilah kesalehan social. Mungkin agar menjadi lebih sempurna, perlu ditambah jenis kesalehan lainnya, misalnya kesalehan intelektual. Orang yang tertib menjalankan sholat lima waktu, puasa, haji dan banyak berdzikir, disebut sebagai orang yang saleh ritual.

Demikian pula, orang yang secara tertib dan disiplin selalu mengeluarkan zakat, infaq dan shodaqoh, suka menyantuni anak yatim dan orang miskin, membantu biaya pendidikan orang yang tidak mampu, dan seterusnya, disebut telah mencapai kesalehan sosial. Saleh ritual telah banyak orang meraihnya, tetapi kesalehan sosial masih perlu didorong lebih keras lagi.

Orang seringkali mengeluh, banyak orang hanya mengejar kesalehan ritual. Artinya, orang cepat tertarik tatkala diajak kegiatan yang bernuansa ritual, seperti dzikir bersama, istighosah, umrah, haji berkali-kali, dan sejenisnya. Kegiatan itu dianggap lebih utama dari jenis kegiatan keagamaan lainnya. Padahal keberagamaan yang bersifat ritual, harus disempurnakan dengan kesalehan sosial. Orang yang tidak memperhatikan anak yatim dan memberi makan orang miskin disebut mendustakan agama.

Selain kesalehan spiritual dan kesalehan social, masih ada lagi yang lebih perlu didorong lagi, yaitu kesalehan intelektual. Seseorang dikatakan telah meraih kesalehan intelektual manakala yang bersangkutan selalu menggunakan akal atau intektualnya untuk kepentingan kehidupan ini sebagai bagian dari ibadah kepada Tuhan. Intelektual bisa disalah gunakan untuk kerusakan. Orang yang merancang berbuat jahat, sehingga kehidupan menjadi kacau, demi kepentingan dirinya sendiri, golongan atau orang lain, maka yang bersangkutan tidak menggunakan akal atau intelektualnya secara saleh.

Orang-orang yang tidak mau menggunakan dan mengembangkan potensi pikiran atau intelektual sebagaimana mestinya, maka bisa disebut sebagai orang yang tidak saleh intelektualnya. Islam menganjurkan kepada kaum muslimin agar selalu membaca, berpikir, memperhatikan, menganalisis, meneliti untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika kewajiban itu ditunaikan sebaik-baiknya, maka artinya yang bersangkutan telah disebut sebagai orang saleh intelektualnya.

Membangun kesalehan intelektual dalam Islam bukan dianggap sebagai perkara sederhana. Ayat al Qurán yang pertama kali turun adalah berupa perintah membaca. Yaitu membaca dengan atas nama Tuhan. Perbuatan membaca, meneliti, menganalisis, memahami dengan mengatas namakan Tuhan Yang Maha Mulia, Yang Maha Benar, Yang Maha adil dan sifat-sifat mulia yang lain, yang dilakukan secara benar, obyektif, sungguh-sungguh, maka itulah yang disebut dengan saleh intelektual.

Orang yang telah meraih kesalehan intelektual akan menjadi kaya ilmu. Para ulama’ terdahulu, apapun bidang keilmuan yang ditekuni, mereka itu adalah orang yang telah meraih kesalehan intelektual. Mereka itu berhasil menelorkan karya-karya besar di berbagai cabang ilmu pengetahuan. Nama mereka menjadi sedemikian harum, karena buah pikiran dan karya-karyanya dipelajari atau dikaji dari generasi ke generasi di berbagai kalangan yang luas.

Kesalehan intelektual dipandang lebih penting daripada kesalehan ritual dan bahkan juga kesalehan sosial. Sebab kesalehan intelektual dianggap sebagai pintu untuk memasuki kesalehan lainnya. Al Qurán sendiri juga menegaskan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan-----kesalehan intelektual, beberapa derajat lebih tinggi. Sedemikian mulianya orang-orang yang telah meraih kesalehan intelektual, sehingga disebut tinta para ulama lebih mulia dan berharga dari pada darah para suhadak.

Munculnya berbagai macam lembaga pendidikan hingga perguruan tinggi Islam di mana-mana adalah sebagai upaya untuk membangun atau mengantarkan orang-orang agar berhasil meraih kesalehan intelektual. Namun kesalehan intelektual yang dimaksudkan itu adalah kesalehan yang didasari oleh keimanan. Hal itu dapat dipahami dari kalimat perintah membaca hendaknya dilakukan atas nama Tuhan dan bukan sembarang membaca.

Atas dasar pemahaman seperti itu, mestinya umat Islam di mana-mana, selain membangun kesalehan ritual dan kesalehan social, harus menyempurkan dengan membangun kesalehan intelektual. Umat Islam tidak selayaknya merasa ber-Islam secara kokoh dan sempurna, jika baru berhasil membangun kesalehan ritual dan kesaleahan sosial. Umat Islam selama ini menjadi lemah, sehingga dikalahkan oleh umat lainnya, disebabkan karena gagal dalam membangun pilar-pilar kesalehan intelektual.

Umat Islam semestinya mengembangkan pusat-pusat riset di berbagai cabang ilmu dalam rangka membangun kesalehan intelektual. Melakukan riset dalam berbagai ilmu adalah sama artinya memenuhi perintah al Qurán dan juga hadits Nabi. Al Qurán memerintahkan kepada manusia agar memikirkan dan mempelajari ciptaan-Nya baik yang dilangit maupun yang di bumi. Tidak selayaknya, perintah mengembangkan ilmu hanya dimaknai sebatas mengembangkan ilmu-ilmu fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf dan tarekh yang kemudian disebut sebagai Islamics Studies.

Islamics Studies tidak cukup dimaknai secara sempit seperti di muka itu. Islamics studies harus ditarik dalam kontek yang lebih luas, meliputi semua bidang ilmu sebagaimana al Qurán dan hadits nabi memerintahkan untuk menggali dan mengembangkannya. Jika Islamics studies hanya dipahami secara sempit, maka sampai kapanpun, umat Islam akan tetap tertinggal dari umat lain, karena gagal dalam membangun kesalehan intelektual yang sebenarnya. Wallahu a’lam.

uin-malang.ac.id

No comments:

Post a Comment